Baba Boentjit, wisata sejarah nan digital

Ditulis 29 Apr 2018 | 07:23:33
Baba Boentjit, wisata sejarah nan digital
Rumah Baba Boentjit (dok)

Palembang (IndiTOURIST) – Setelah berkeliling di kota Palembang, menikmati kuliner khas kota ini, lalu merasakan sensasi lain di pinggiran sungai Musi kawasan Benteng Kuto Besak, kami pun bergegas untuk menyeberangi sungai ini.  Tujuannya adalah destinasi digital Pasar Baba Boentjit.

Digagas oleh Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Sumatera Selatan, Baba Boentjit disulap menjadi salah satu destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan.  Menurut Muhammad Yunus alias Obay selaku ketua umum Genpi Sumatera Selatan, sebelum masuk ke area Baba Boentjit sebenarnya wisatawan sudah berwisata terlebih dahulu di Sungai Musi.

“Pengunjung yang datang ke sini akan merasakan suasana lain sebelum mencapai rumah Baba Boentjit. Menumpang perahu motor menyeberangi sungai musi,’ katanya.

Pasar ini memang menggabungkan daya tarik wisata budaya dan kuliner khas Palembang.  Bertempat di pinggir Sungai Musi, pengunjung akan disuguhkan banyak spot menarik yang “instagramable”. Spot-spot seperti inilah yang akan diminati kaum milenial saat ini.  

Daya tarik

Pasar Baba Boentjit punya daya tarik tersendiri.  Dimana bangunan rumah tua ini sudah mencapai 300 tahun.  Rumah ini adalah milik Baba Ong Boen Tjit, salah seorang pengusaha terkenal peranakan di Palembang tempo dulu.

Tampilan rumah ini berbentuk dan berornamen Palembang dengan interior dan ornamen Tiongkok.   Pengunjung destinasi wisata ini bisa melihat pengrajin lidi nipah yang merupakan salah satu mata pencaharian masyarakats ekitar.

Pasar ini buka setiap minggu dengan menyuguhkan berbagai tema menarik yang tentu saja akan dijadikan sebagai daya tarik.  

Saat ini rumah Baba Boentjit dihuni oleh keturunan kedelapan dari Baba Ong Boen Tjit.  Terletak di Lorong Saudagar Yucing No. 55 RT 050 RW 002 Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, bisa jadi lokasi ini kelak akan menjadi cagar budaya. 

“Wisatawan asing yang datang ke sini biasanya merupakan ahli-ahli sejarah dan juga arsitektur-arsitektur dari berbagai negara,” kata Budiman yang merupakan keturunan kedelapan saudagar Baba Oeng.

Dari dermaga patung ikan belida di Benteng Kuto Besak, Pasar Sekanak atau daerah Suro (Ulu Sungai Musi), pengunjung mesti menggunakan perahu ketek (perahu kecil).  Jarak tempuhnya hanya 5 menit dengan tariff perahu motor antara 5 ribu hingga 10 ribu rupiah, tergantung negosiasi. 

Infrastruktur minim

Untuk menjadikan destinasi wisata Pasar Baba Boentjit ini terus dikunjungi wisatawan, tentu saja sinergi berbagai instansi pemerintah dan swasta menjadi kebutuhan utama.  

Menurut Budiman, kebutuhan yang sangat mendesak adalah dermaga dan perbaikan lantai papan di bagian teras rumah ini.  “Selama ini kami mengelola ini dengan dana pas-pasan dan swadaya.  Kami mengharapkan pihak-pihak terkait termasuk pihak swasta untuk bisa membantu mempertahankan dan atau mengembangkan destinasi wisata sejarah ini,” katanya.

Sementara itu Obay selaku pengelola dan penggagas destinasi digital ini mengatakan, pengunjung yang datang ke Pasar Baba Boentjit ini adalah anak-anak muda.  “Spot-spot foto yang ada di area ini menjadi daya tarik mereka,” tegasnya.  Ia berharap dukungan jaringan internet WiFi dari Telkom bisa masuk ke kawasan ini. “Kalau perlu free WiFi. Supaya pengunjung bisa bebas bersosmed dan mempromosikan wisata ini,” tambahnya. (sg)

Baba Boetjit dalam video :

 

 

Komentar
Photo
Wisata Ancol
25 Jan 2015 | ::
Saat ini, area rekreasi 552 hektar dikenal sebagai Ancol Jakarta Bay City, berisi hotel, cottage, pantai, taman, tempat pasar tradisional, sebuah ...
Back to top
©2014 IndiTOURIST.com All Right Reserved