Kemenpar : Low season, saatnya sharing economy

Ditulis 09 Feb 2018 | 07:02:33
Kemenpar : Low season, saatnya sharing economy
Kunjungan menpar ke Lion Air Group (dok)

Jakarta (IndiTOURIST) – Berkunjung ke Lion Air, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sehebat apapun berpromosi, tanpa disiapkan akses menuju Indonesia, hanya akan menjadi bottlenecking. 

“Karena itu, syarat pengembangan destinasi 3A —Atraksi, Akses, Amenitas— itu harus pasti dulu. Nah, akses itu 75% wisman masuk ke Indonesia melalui jembatan udara, sisanya via penyeberangan dan crossborder. Saya harus pastikan aksesnya cukup, karena dengan target 17 juta masih ada kekurangan 1,1 juta seats capacity,” jelas Arief Yahya. 

Kunjungan menpar ke Lion Air Group diterima langsung oleh Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait.  Arief Yahya mengatakan dukungan diperlukan guna memenuhi slot 25 juta kursi flight internasional.

“Arus masuk wisatawan mancanegara didominasi melalui udara. Total kebutuhan tahun ini ada 25 juta seats. Dari jumlah itu masih kurang 1,1 juta seats. Rencananya penambahan terbesar 600 ribu seats itu untuk Bali. Jakarta 400 ribu seats, lalu sisanya melalui bandara lainnya. Untuk itu, kami meminta Lions Air Group untuk ikut membantu menyediakan kursi baru,” ungkapnya.

Dikatakan Arief, maskapai bisa mengoptimalkan pasar utama. Mengacu data Kemenpar, ada lima pasar yang bisa diekplorasi lagi oleh maskapai. Ada pasar Tiongkok, Eropa, Australia, Singapura, juga India. Pada 2017, jumlah wisatawan Tiongkok 1,91 juta atau tumbuh 42,22%. Eropa ada 1,74 juta wisman, lalu tumbuh 14,12%. Australia (1,10 juta), Singapura (1,31 juta), dan India (434,19 ribu).

“Tiongkok sudah jadi pasar utama. Untuk Eropa dijadikan satu karena identik. Meski nomor dua, tapi pasar Eropa menjadi penyumbang devisa terbesar. India juga sangat unik. Pertumbuhannya sebesar 29%. Kondisi ini harus lebih dioptimalkan lagi. Malaysia, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang tetap menjadi market penting,” jelasnya.

Strategi Sharing Economy

Arief Yahya juga menegaskan, selain pasar potensial, maskapai harus jeli dan terbuka melihat moment saat low season. Mengusung konsep sharing economy, low season bisa disikapi dengan discount. Besarannya adalah 30%-40%. Dan, penurunan harga ini berlaku menyeluruh. Berlaku untuk maskapai, akomodasi, bahkan destinasi. Ia menambahkan, Lion Air pun harus terbuka terhadap tata waktu kapan terjadinya low season tersebut.

“Kami ingin Lion Group dan maskapai lain memberitahukan kapan low season itu terjadi. Kondisi ini nanti akan disikapi dengan sharing economy. Tidak perlu ditutupi karena akan dirahasiakan. Saat low season, maka semua akan ikut. Besarnya bisa 30% atau 40%. Nanti kalau ada yang tidak mau ikut, maka sanksi sosialakan diberikan. Kebijakan ini dilakukan agar industri tetap jalan,” lanjutnya lagi.

Pun kemungkinan membuka rute baru. Lion Air memenuhi prasyarat ini. Pertumbuhan international seats-nya 70,4% di 2017. Angka riilnya 2,97 juta. Lion Air pun kini ada di strip tiga. Posisi teratas ditempati AirAsia Group dengan kursi 4,67 juta atau tumbuh 9%. Berikutnya Garuda Indonesia dengan 3,37 juta kursi, lalu tumbuh 8,6%.

“Progress Lion Air sangat bagus. Lion Air pada 2016 hanya tumbuh 18,5%. Tapi, kapasitas kursinya kini tumbuh signifikan 70,4%. Dengan fakta ini, Lion Air harus membuka rute baru lagi. Fokuskan ke pasarnutama. Hubungkan dengan destinasi yang mengalami kenaikan kunjungan,” tutur Arief Yahya.

Dari 19 pintu besar angkasa, ada 6 bandara dengan pertumbuhan fantastis. Bandara Ngurah Rai (Bali), Kualanamu (Medan), Sam Ratulangi (Manado), Internasional Lombok (NTB), Sultan Syarif K. II (Riau), dan Adi Sucipto (Yogyakarta). “Pertumbuhan masuk wisman di bandara itu besar. Bali tumbuh 20,93%. Sam Ratulangi 90,8%, lalu Lombok  37,2%. Yogya tumbuh 28,1%. Ini harus dimanfaatkan, termasuk di Bandara Soekarno-Hatta,” katanya.  Insentif/stimulus disiapkan Kemenpar. Marketing communication, pameran, sales mission, dan farm trip jadi katalis menjadi stimulusnya.

Sementara itu Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait menjelaskan, ada enam rute baru yang sedang di proses dengan Tiongkok sebagai tujuannya. Poros Tiongkok diantaranya akan terhubung dengan Lombok dan Batam. Selain itu, rute Bali dan Jakarta ke Korea Selatan juga siap.

“Kami tetapfokus pengembangan rute dan kapasitasnya. Semua masih proses. Kami bahkan menjajaki rute Lombok-Tiongkok. Rute reguler Korea-Jakarta pada Mei sudah aktif. Kalau dari Bali menuju Incheon dan Busan bisa jalan di Juni. Bahkan, charter flight dari Batam ke Busan dan Incheon segera jadi rute reguler. Kami juga ajukan rute tiga kali seminggu dari Belitung ke Kuala Lumpur,” katanya.

Edward pun menambahkan, Lion Air akan menganalisa peluang penambahan rute baru ke Tiongkok. Sebab, Lion Air sudah merencanakan pembelian 39 armada baru. “Kami akan percepat proses analisis ini. Sebab, kami terbentur dengan kapasitas bandara. Makanya, kami justru mengembangkan rute baru dari Medan dan Batam. Kalau tujuannya Korea Selatan justru oke,” pungkasnya. (sg)

Komentar
Photo
Wisata Ancol
25 Jan 2015 | ::
Saat ini, area rekreasi 552 hektar dikenal sebagai Ancol Jakarta Bay City, berisi hotel, cottage, pantai, taman, tempat pasar tradisional, sebuah ...
Back to top
©2014 IndiTOURIST.com All Right Reserved