Syariat Islam Bukan Masalah Untuk Majukan Sektor Pariwisata di NAD

Ditulis 31 Jul 2015 | 09:02:12
Syariat Islam Bukan Masalah Untuk Majukan Sektor Pariwisata di NAD
Masjid Baiturrahman Banda Aceh (foto : Romli Rossi)

Langsa, NAD (IndiTOURIST) – Penerapan syariat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) bukan menjadi penghalang dan penghambat pembangunan sektor pariwisata di provinsi ini.  Hal ini dikatakan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sudirman.  "Aceh melaksanakan syariat Islam, tapi bukan sebagai batu sandungan dalam mengembangkan potensi pariwista yang ada," katanya dalam pertemuan dengan Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Langsa beberapa waktu lalu.

Menurut Sudirman, pelaksanaan syariat Islam di Aceh bisa bersinergi dengan laju pertumbuhan pariwisata, terlebih saat ini Pemerintah Aceh sedang menggalakkan program tahun kunjungan di Aceh.  Ia mencontohkan, pemeran sosok Haji Uma dalam serial drama komedi yang populer di Aceh itu berharap kepada semua pemangku kepentingan dan masyarakat agar bisa bersatu mewujudkan program destinasi wisata di propinsi paling ujung pulau sumatera itu.

Dikatakannya, sektor pariwisata merupakan penyumbang pendapatan negara terbesar. Untuk itu, dengan terbitnya Undang-undang Nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Sudirman mendorong pembangunan sektor pariwisata di seluruh kabupaten/kota di Aceh.  "Ini masa reses, kami hadir untuk melakukan monitoring terkait UU Kepariwisataan. Semoga Aceh bisa membangun destinasi wisata dan memberikan hasil positif terhadap pendatan asli daerah," tutur anggota Komite III DPD RI tersebut.

Ditambahkan Sudirman, jika potensi wisata di Aceh dikelola dengan baik pasti akan berdampak pada meningkatnya perekonomian masyarakat di sekitar lokasi objek wisata dan akan bergeliatnya industri kreatif.  Pun demikian, ia menekankan pentingnya keselarasan antara rencana pembangunan wisata daerah dengan pusat.  Selain itu, lanjut dia, infrastruktur pendukung juga harus dibangun, di samping pengembangan produk wisata dan keterlibatan masyarakat.

Tak kalah pentingnya menurut Haji Uma adalah jaminan kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke Aceh.  Ayah Yusniar dalam serial komedi "Umpang Breuh" itu juga mengatakan masih ada beberapa kelemahan dalam menangani pariwisata di Aceh.

Misalnya, sambung dia, masih terjadi pengkerdilan terhadap dinas dan minimnya anggaran yang tersedia. Selanjutnya, dia menilai bercampurnya bidang kepariwisataa dalam suatu dinas juga merupakan kendala lain yang harus segera diambil langkah konkrit oleh pemerintah daerah.

"Bidangnya bercampur, bersatu dalam suatu dinas yang akhirnya gemuk. Padahal kementeriannya berbeda," imbuh dia dalam pertemuan santai penuh nuansa kekeluargaan itu. Sudirman juga mengutarakan pentingnya "blue print project" dalam pembangunan destinasi wisata di Aceh.  Terlebih, kata dia, saat ini DPD RI sedang membahas Rancangan Undang-undang Perlindungan Kebudayaan dan Bahasa Daerah.

Dalam kesempatan itu, senator asal Aceh itu berjanji akan memperjuangkan aspirasi masyarakat Aceh umumnya dan Kota Langsa khususnya, terkait dengan pembangunan kepariwisataan.  "Segenap kemampuan pemikiran dan tenaga saya siap berjuang untuk kemasalahatan masyarakat Aceh," kata Sudirman.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Langsa Syafrizal menyampaikan sejumlah program yang telah dan akan dilaksanakan pihaknya terkait dengan pencanangan Langsa destinasi wisata tahun 2017.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Usman Abdullah, kata Syafrizal, pengembangan sektor pariwisata di daerahnya mulai berdenyut.  Dimana, telah dibangun jalan setapak di kawasan hutan mangrove di Kuala Langsa dengan panjang 250 meter dan akan kembali dibangun sehingga mencapai 1 kilometer. "Pembangunan jalan setapak itu menyedot perhatian banyak pengunjung. Kami masih terus akan membangun sampai 1 Km panjangnya," sebut Syafrizal. Sedangkan untuk objek wisata lainnya terdapat ruang terbuka hijau atau lebih populer disebut hutan kota.

Di kawasan itu, terang Syafrizal, telah dibangun beberapa fasilitas seperti mushalla, danau buatan, penakaran rusa dan juga infrastruktur penunjang seperti jalan sehingga memudahkan akses menuju lokasi objek wisata itu.  Ditempat itu pula digelar acara Sapta Pesona yang merupakan ide pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwista dan Ekonomi Kreatif di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, serta sejumlah even lainnya yang terkait dengan kepariwisataan dan kebudayaan.

Untuk menarik minat wisatawan, Syafrizal juga menyampaikan telah merenovasi gedung bersejarah peninggalan Kolonial Belanda yang berada di Jantung Kota Langsa sebagai gedung museum daerah.  "Balai Juang yang merupakan saksi sejarah pemerintahan kolonial telah dipugar menjadi museum daerah yang kini masih dalam tahap pengerjaan dan pengumpulan benda-benda bersejarah yang akan diletakkan di museum itu," papar dia.

Masih menurut Syafrizal, bidang kebudayaan juga terus digalakkan seperti dialog budaya, penggalian potensi seni generasi muda, festival piasan raya dan lainnya.  "Tahun 2016 akan dilaksanakan Festival Budaya Melayu Raya, di mana, Langsa merupakan pusat peradaban tiga perkauman yakni Melayu (Tamiang), Aceh dan Gayo," jelasnya.  (Rin/Ant)

Komentar
Photo
Lebih Dekat Dengan Labuan Bajo
01 Okt 2017 | ::
Labuan bajo merupakan salah satu destinasi andalan wisata Indonesia khususnya Nusa Tenggara Timur.  Selain Pulau Komodo, berbagai pulau di Bajo ...
Tips
Pusat informasi turis di Kualanamu resmi dibuka
09 Sep 2018 | 09:01:36
Kementerian Pariwisata meresmikan Pusat Informasi Turis di Bandar Udara Kualanamu untuk memenuhi kebutuhan informasi para wisatawan.
Back to top
©2014 IndiTOURIST.com All Right Reserved